Minggu, 24 Juli 2011

-RASA TAKUT YANG MENGIKUTIKU-

PART II
Siang pun berganti malam, malampun berganti pagi. Inilah hari terakhir dimana aku berada dirumah sakit, tempat yang menampungku saat aku dalam keadaan koma, ya tepatnya hampir seminggu aku berada dirumah sakit ini. Para suster sibuk membantu mengemaskan pakaian-pakaianku, bersama dengan ibuku.
Beberapa detik kemudian pandanganku tak lepas tertuju pada seseorang yang mengenakan almamater putih, serta alat tetoskop yang menggantung dilehernya. Dia berjalan mendekat ke arahku wajahnya tersenyum padaku, tidak lupa juga ku tersenyum kembali kepadanya. Dia tidak lain adalah seorang dokter yang menanganiku saat aku dalam keadaan koma, kemudian akupun tersipu malu .
Setelah semua pakaianku beres dikemas, akupun dibawa keluar dari kamar inapku oleh dokter muda itu. Tepatnya aku dibawa kesebuah tempat dimana hanya ada kursi, meja kerja, tempat tidur periksa, serta alat-alat periksa dokter lainnya. Ya, didalam ruangan kerja dokter tepatnya saat ini aku berada. Aku kembali tersentak kaget ketika dokter muda itu bilang bahwa aku memiliki penyakit yang mematikan itu, yang sebelumnya juga sudah diberitahukan oleh ibuku. Aku tak percaya kenapa semua ini terjadi padaku?? Yang dimana semua orang mungkin tidak mengingikan penyakit tersebut terjadi pada dirinya masing-masing. Yaitu, penyakit paru-paru ( bronchitis ) serta kantung hati ( liver ). Deraian air mataku pun makin menjadi-jadi disini, diruangan ini aku menangis terisak-isak. Bahkan aku tak tau lagi apa yang harus aku lakukan sekarang dan selanjutnya, hidupku tidak akan lama lagi itu pikirku. Tidak lebih atau tidak kurang dari 1 tahun, menurut perkiraan para dokter yang ahli dalam menangani penyakitku ini.
Disaat heningnya suasana, aku berfikir apakah penyakitku ini adalah penyakit keturunan dari almarhum ayahku?? ( Tn. Haerun ululima 58 tahun) Dalam diamku, ku bertanya-tanya apakah ini yang selalu menghantuiku?? Terdengar suara gesrekan secarik kertas bergambar, tidak terlalu tebal juga tidak terlalu tipis. Aku tidak begitu asing dengan brosur tersebut, kemudian dokter muda itu memberikanya kepadaku dengan wajahnya tersenyum yang terlihat sangat tampan saat itu bagi ku. Akupun terdiam seketika dari isak tangisku.

“Ini milik mu, lul..” dokter itu sambil memberikan secarik kertas itu ketanganku.
Dengan kaget akupun mengatakan “Apa ini dok??”
Dokter itu tersenyum sambil menyuruhku melihatnya “Lihatlah saja!!”
Aku kembali tersentak kaget untuk kesekian kalinya, brosur itu adalah brosur dimana adalah jalan utamaku untuk dapat menggapai mimpiku. Aku semakin keras menangis tersedu-sedu dengan isak tangis yang amat terdengar, bahkan aku tidak mempedulikan rasa maluku terhadap orang yang ada didepan mataku saat ini, tak lain adalah dokter muda itu.
“Lanjutkan mimpimu, semua belum berakhir lul. Brosur ini milikmu, saat kejadian kecelakaan itu seorang anak kecillah yang menemukan brosur ini, dan memberikannya kepada saya. Saya tahu ini milikmu.” Kata dokter muda itu sambil menepuk pundakku. “Ayo bangkit, kamu pasti bisa lawan rasa takutmu. Saya yakin kamu bisa menjadi seorang xexofonis yang handal, seperti apa yang selama ini kamu harapkan.” Lanjutnya.
kemudian aku tidak menjawab sepatah katapun yang keluar dr mulut ku, aku pergi keluar ruangan itu dan mengajak ibuku pergi dari rumah sakit.
pikiranku kosong dan terasa hampa, apa boleh buat aku harus terus jalani hidup ini. serta menggapai mimpiku..

( Bersambung ke Part III )

* chici cuiit :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar