Minggu, 24 Juli 2011

-RASA TAKUT YANG MENGIKUTIKU-

PART IV

Seminggu telah berlalu, dari hari pengambilan formulir itu. Aku mulai tak percaya diri bahwa aku pasti akan lolos untuk audisi itu atau tidak. Di hari itu, dimana aku mengambil serta mengisi formulir hatiku ada perasaan ragu yang amat mendalam, tapi sudahlah toh aku sudah mengisi dan mengembalikan formulir ke tempat itu pikirku.
Lalu aku bersiap-siap untuk berangkat ke kampus pagi ini, hari ini adalah hari pertama aku masuk kuliah lagi setelah libur panjang dari kampus. Sebenarnya aku sungguh takut untuk meninggalkan rumah, apalagi akannya bunyi suara telephone. Jangan sampai ibuku yang mengangkat telephone dari tempat audisi itu, tapi mau bagaimana lagi aku harus tetap berangkat untuk kuliah. Aku hanya bisa berdo’a saja dalam rasa takutku ini, akupun berpamitan dengan ibuku.
Disamping mesin jahit yang sudah begitu usang bagiku, ibuku duduk dikursi goyang milik almarhum ayahku. Wajahnya begitu murung, entah apa yang sedang dipikirkan olehnya. Aku mencoba untuk bertanya duluan, tapi tiba-tiba ada rasa takut yang mendorong aku untuk tidak menanyakan padanya. Ternyata rasa takutku itu benar, ibuku memanggilku dengan suara lemah.
“Lul,..” katanya sambil menatap wajahku
“Sebelum kau berangkat kuliah, ada yang ingin ibu tanyakan padamu. Apa benar kau mau ikut audisi pementasan itu?? Apa kau tega meninggalkan ibumu seorang diri apabila terjadi apa-apa dengan kau. Sakit ibu lul, mendengar berita kau lolos dalam audisi itu tanpa kau meminta izin dengan ibu terlebih dulu. Apa ibu tidak boleh tau akan hal itu? Jawab lul,” suara ibu mulai terdengar sangat melemah. Suara rintihan tangisan pun mulai terdengar, akhirnya hal yang ku takuti selama ini datang juga. Sungguh aku bingung mau mulai darimana, akupun ikut terbawa suasana. Akupun menangis untuk kesekian kalinya, tak kuat harus bagaimana lagi.
Kemudian aku mulai bercerita panjang lebar dengan ibuku, bahkan hal kenapa aku ingin sekali ikut audisi pementasan musik itupun juga aku jelaskan. Aku tidak memikirkan yang lain-lain, untuk masalah kuliah pun aku tidak memikirkannya. Biar hari ini aku tidak masuk kuliah dulu, asalkan aku bisa menceritakan semuanya pada ibuku serta menyelesaikan masalah ini. Setelah aku selesai menceritakan semuanya, ibuku sungguh kaget mendengar ceritaku itu, dia langsung memelukku sangat erat. Di dekapannya akupun tak kuat menahan isak tangisku, apapun yang terjadi aku harus siap. “Ibu, aku ingin menunjukkan sesuatu pada ibu. Mungkin sesuatu yang belum sempat almarhum ayah berikan kepada ibu!” lanjutku. Kemudian aku mengambil sebuah kotak yang mungil tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, dengan balutan pita berwarna ungu didepannya dan hiasan lainnya kotak itupun terlihat sungguh cantik dan menarik.
Aku mulai membuka kotak tersebut pelan-pelan, dengan sedikit debu yang menempel akupun meniup dengan helaan nafasku. Isinya adalah sebuah kertas yang belum begitu usang, namun sudah terlihat berwarna kecoklat-coklatan dari warna aslinya yaitu warna putih. Isinya tak lain adalah selembar kunci-kunci nada serta lirik lagu yang bisa dimainkan dengan sebuah alat musik xexofon yang bila digabungkan akan menjadi satu harmonisasi nada yang syahdu dan indah didengar jika dimainkan dengan alat musik xexofon tersebut yang ditulis sendiri oleh tangan ayahku. Sungguh kaget ibuku melihatnya, bahkan ibuku lebih kaget ketika ia melihat 1 lembar foto yang ada didalam kotak itu. Yaitu, foto dirinya dengan almarhum ayah ketika di Inggris saat ia menemani ayahku untuk mengikuti pementasan musik xexofon itu.
Aku sadar ibuku terus mengeluarkan air matanya, aku mencoba untuk bisa menenangkan dirinya. “Aku tahu ibu sangat sedih, bahkan tak percaya akan terjadi seperti itu. Mungkin sakit ayah yang sama denganku yang membuat ibu takut akan kehilangan orang yang ibu sayangi lagi, tapi ibu harus percaya bahwa semua itu sudah diatur dari yang di atas. Kita harus bisa menerimanya dengan hati yang lapang, dan aku sekarang yang harus menggantikan ayah untuk mengikuti pementasan musik xexofon itu bu. Aku ingin sekali menggapai mimpi ayah, yang tak lain juga sudah menjadi mimpi dan cita-citaku.” Kataku sambil aku memeluk ibuku erat.
Ibu mulai memberi senyuman kecilnya yang paling indah, akupun tahu perasaan ibu jauh lebih baik dari sebelumnya. “ ibu bangga punya putri seperti ulul, tapi ibu tidak mau kau seperti ayahmu nanti. Ibu tidak mau ditinggalkan lagi oleh orang yang ibu sayangi untuk kesekian kalinya, ibu harap kau mengerti lul.” Kata ibuku sambil menghapus air matanya dengan menggunakan selendang yang dipakai di lehernya.
“Besok siang pukul 13.30 wib kau harus sudah siap dengan segala hal nak, untuk mengikuti audisi itu. Ibu percaya kau pasti lolos, karna do’aku selalu menyertaimu.” Lanjut ibuku yang sebenarnya ibu masih tidak rela dan tidak menyangka aku akan seperti ini.
Dalam keheningan akupun masuk kedalam kamarku dan mengambil alat musik xexofon yang dulu adalah hadiah ulang tauhunku yang ke-18 dari almarhum ayah, kemudian aku mulai meniup dan memainkan alat musik xexofon itu dengan melihat kunci-kunci nada yang tertulis pada lembaran kertas itu. Alunannya yang syahdu, membuat aku dan ibuku terhanyut. Dari sini aku benar-benar mulai bertekat untuk mengikuti audisi pementasan itu besok!

( Bersambung ke PART V )

*chici cuiit :))aku akan tetap menjadi diri ku sendiri :) aku yakin aku bisa melewati semuanya, tanpa aku sadari banyak orang yang sayang dan peduli dengan ku, terima kasiih buat supportnya selama ini.. sayang kalian ALL :*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar