Minggu, 24 Juli 2011

-RASA TAKUT YANG MENGIKUTIKU-

PART III
Hari demi hari kulewati hariku seperti biasanya, membantu ibuku serta pergi ke kampus untuk mengasah otakku. Karna dimata almarhum ayahku pendidikan adalah tetap nomor satu, tak disangka sudah hampir 3 bulan aku melewati masa dimana terjadi kecelakaan itu. Segala upaya dan secara pelan-pelan telah kulakukan untuk sekiranya dapat menyembuhkan sakitku ini, ya walau aku tau takkan mengubah apapun dalam penyakitku ini. Tapi aku yakin jika aku sungguh-sungguh semuanya tidak ada yang gak mungkin. Aku percaya tuhan tidak tidur dan akan selalu menolong hamba-Nya yang meminta permohonan, aku yakin tuhan selalu ada didekatku.
Pagi ini adalah hari kesekian kalinya aku melakukan chek-up, periksa darah, ambil darah, disuntik, dan lain-lainnya dimana sungguh menguras tenaga serta organ tubuhku. Sangat lelah mungkin, tapi aku sangat berantusias menjalaninya demi untuk kesembuhanku.
“selamat pagi, Ny.hadita ululima.. hmm,bagaimana keadaannya sekarang? Semoga lebih baik yaa.” Dari belakang pintu salah satu kamar terdengar suara seseorang yang menyapaku, dengan senyuman paling indah yang pernah aku lihat setelah senyuman ibuku “dengan siapa kamu kesini?” lanjutnya.
Aku kembali tersenyum saat orang itu menyapaku, dia bukan lain adalah dokter yang waktu itu menangani aku, ya dokter ismail syaid ( 25 tahun ) dengan sebutan dokter aid aku biasa memanggilnya. Kemudian aku menjawab, “ syukur alhamdulillah dokter, aku sudah merasa lebih baik selama 3 bulan ini. Aku harap dengan semua yang kulakukan ini tidak menjadi sia-sia, insya allah hasilnya adalah yang terbaik.” Begitu aku menjawabnya dengan sedikit membungkukan pundakku, yang artinya aku memberikan salam kepadanya. “ yaa, baguslah kalau begitu.” Jawabnya singkat, namun berarti bagiku.
Seketika aku terdiam, aku teringat akan brosur milikku yang waktu itu sempat dikembalikan kepadaku tepatnya 3 bulan yang lalu. Sore ini adalah pengambilan formulir yang terakhir, aku sungguh terhanyut dalam keadaan bingung. Ingin rasanya aku bercerita sedikit kepada dokter aid, tapi aku sungguh ragu. Perasaan beraniku baru muncul setelah dokter aid mulai membicarakan hal-hal yang lucu, panjang lebar dia bercerita tentang pasien-pasien yang pernah dirawatnya. Aku ingin tertawa sekeras-kerasnya karna ceritanya yang membuat aku sungguh sangat geli, namun tidak kulakukan aku hanya sedikit tertawa kecil tapi ku tahan juga.

Aku mulai mengeluarkan sepatah dua patah kata, “ dok..”

Dokter aid pun bingung dengan caraku memanggilnya, “dok, aku.. aku ingin..” lanjutku dengan suara terbata-bata. Kemudian dokter aid memotong pembicaraanku, “apa yang ingin kau ceritakan padaku?? ayolah, jangan kau pendam sendiri.. wajahmu penuh dengan kebingungan dan keraguan.” Lanjut dokter aid sambil menatap mataku dalam-dalam. Aku sungguh terhanyut dalam tatapannya, aku tak kuat memandang matanya yang begitu penuh dengan keingin tahuan. Kemudian aku pun membuang pandanganku seketika keluar jendela yang ada dikamar periksa itu.
Lalu aku melanjutkan pembicaraanku yang sempat terbata-bata tadi, akupun mulai mengeluarkan air mata lagi. Sungguh aku tak mampu menahan air mata ini, mungkin impian ku yang saat ini aku harapkan sekali harus ada tembok yang menghalanginya. “ dok, aku sungguh ragu. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kebingungan ini yang selalu saja mengikutiku, tak terhitung berapa banyak air mata yang selalu terbuang sia-sia.”
Hanya senyuman kecil yang diperlihatkan oleh dokter aid, akupun sudah tau apa maksudnya itu. Kemudian dia mengatakan “Ayolah bangkit, lakukan apa yang memang seharusnya kamu lakukan.” Aku langsung memotong pembicaraannya, “Aku tau dok, aku ingin sekali bisa melakukan semuanya itu. Tapi bagaimana dengan ibuku, sejak meninggalnya ayahku ibuku sangat dingin sekali dengan yang namanya alat musik xexofon. Untuk melihatnya saja dia tidak pernah mau, traumanya dia setelah ayahku meninggal. Kejadian itu sudah 2 tahun yang lalu, dimana ayahku meninggal saat pementasan musik di inggris. Penyakitku ini yang membuatnya meninggal, ayahku juga memiliki penyakit yang aku derita sekarang. Aku sungguh bingung apa yang harusnya aku lakukan?” deraian air mataku pun terus mengalir jatuh dipipiku.

Dokter aid mencoba untuk menenangkan persaanku, dia berkata “Jika kamu memang sungguh-sungguh, pasti semuanya akan ada jalannya. Lakukan dengan do’a, niat dan hatimu yang tulus, kau coba bicarakan 4 mata secara baik-baik dengan ibumu. Aku yakin, ibumu akan luluh dengan tekad mu yang memang benar-benar tulus dari hatimu. Buat almarhum ayahmu bangga dengan apa yang kamu bisa, teruskan mimpinya lewat dirimu. Aku yakin kamu mengerti apa yang aku jelaskan padamu, jadilah wanita yang kuat dan bisa menerima segalanya dengan lapang.” Katanya sambil memberikan senyuman termanisnya.
Hatiku sungguh luluh saat itu, hingga tanpa aku sadari aku tak mengeluarkan air mata lagi, dan akupun tak bisa berkata-kata lagi. Dipikiranku hanya ada ibuku seorang, aku bingung bagaimana cara memberitahukannya. Tapi hari ini yang harus ku lakukan dulu adalah pergi ketempat pengambilan formulir itu, tanpa memikirkan apa-apalagi. Setelah chek-up, periksa darah, ambil darah, serta disuntik aku akan langsung berangkat ke tempat itu dari rumah sakit.
akan ku buktikan pada dunia bahwa aku pasti bisa, aku ingin semuanya bangga kepadaku. Dan aku yakin tuhan pasti memberi jalan untukku, dan memberikan sesuatu yang terbaik untuk ku! PASTI..

( Bersambung ke PART IV )

*chici cuiit :))

Tidak ada komentar:

Posting Komentar